ENERGI SURYA UNTUK KOMUNITAS Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Pedesaan Melalui Energi Terbarukan

“Buku ini sangat relevan bagi akademisi, pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Ia menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan tidaklah serumit yang dibayangkan dan semahal yang diperkirakan. Pilihan teknologi yang tepat dan pendekatan partisipatif menempatkan energi surya sebagai solusi potensial bagi permasalahan energi kita. Diperlukan keberpihakan para pengambil kebijakan, agar inovasi yang mensejahterakan ini dapat diwujudkan di berbagai penjuru tanah air”.
Ir. Wijayanto Samirin, MPP, Staff Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan

“Sejak kelahirannya, UGM memiliki mandat untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan, kesejahteraan masyarakat, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman tentang karya UGM untuk mengabdikan pengetahuan tentang energi terbarukan kepada masyarakat. Proses “scaling up” dan “scaling down” diorkestrasi melalui kemitraan. Karya yang menjadi rujukan tertulis yang menginspirasi”.
drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

“Energi dan pangan adalah dua aspek yg sangat krusial bagi kehidupan. Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah peningkatan layanan energi guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, termasuk di antaranya di berbagai daerah terluar dan tertinggal. Tugas tersebut menuntut kemampuan dalam mengintegrasikan teknologi energi ke dalam sistem sosial – budaya – ekonomi setempat yang khas untuk tiap daerah. Buku ini sangat menarik disimak karena memberi tambahan wawasan dan opsi praktis.”
Anwar Sanusi, MA, Ph.D., Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT)

Muncul kebutuhan yang sangat kuat agar pembangunan Indonesia harus lebih mengimplementasikan berbagai pertimbangan multidimensi sebagai sasaran akhir. Degradasi lingkungan parah yang makin tampak dan terasa adalah akibat model pembangunan yang dijalankan secara parsial. Implementasi pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa mengindahkan keberlanjutan sumberdaya akan mengancam masa depan bangsa itu sendiri.

Masalah lain yang mengemuka adalah praktik pembangunan yang tidak mampu secara memadai memahami kebutuhan masyarakat. Ini terjadi karena rendahnya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, keputusan maupun implementasi berbagai program pembangunan. Hal ini sering mengakibatkan misleading program pembangunan. Berbagai usaha koreksi atas model pembangunan semacam ini terus menerus dilakukan, namun usaha guna menangkap kebutuhan akar rumput sering tidak berhasil. Tidak cukupnya kemampuan dan partisipasi masyarakat serta belum dimilikinya cukup wawasan merupakan ujung masalah ini. Banyak dijumpai pemaknaan pembangunan berbasis masyarakat yang masih diterjemahkan secara sempit dan dianggap menjadi penyebab konsekuensi biaya besar dan tidak efektif.

Banyak wilayah di Indonesia masih dijumpai desa-desa tanpa listrik. Kondisi ini tentu memberi konsekuensi besar bagi warga di sana. Selain keterbatasan dalam penerangan, hal tersebut mengakibatkan terhambatnya berbagai peluang berkembangnya usaha produktif yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keterbatasan pasok energi membuat rumah tangga petani hanya memanfaatkan secara terbatas apa yang ada untuk digunakan berproduksi. Sangat terbatas ditemui pengelolaan lanjut sumberdaya alam. Hasil pertanian juga masih sangat terbatas. Termasuk dijumpai kenyataan di mana hasil dari sektor perikanan dipasarkan langsung secara terbatas tanpa didahului dengan pengolahan. Sebagai akibatnya, sulit dicapai peningkatan pendapatan rumah tangga. Lingkaran kemiskinan yang selama ini terjadi pada rumah tangga di berbagai wilayah yang belum teraliri listrik akan terus bertahan jika tanpa terobosan intervensi.

Lahirnya buku ini dipicu oleh program multidisiplin yang dijalankan oleh “KEMALA”, yang merupakan akronim dari Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari. Konsorsium ini tersusun atas 1) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-PBNU), sebagai pimpinan Konsorsium,
2) Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM),
3) Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PSEK UGM), dan 4) Center For Civic Engagement and Studies (CCES). Konsorsium ini dimulai bulan Juli 2016 sampai Februari 2018 dengan menjalankan program berjudul “Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan” di satu desa di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dan dua desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Tiga desa tersebut mempunyai ciri yang sama, yaitu 1) Belum tersambung dengan jaringan listrik PLN, 2) Mempunyai sumber daya alam yang belum dioptimalkan guna peningkatan kesejahteraan; baru diolah dengan cara tradisional/terbatas,
3) Layanan umum dan pengembangan usaha yang terbatas antara lain karena tidak tersedianya layanan energi yang memadai, 4) Tingkat pendidikan penduduk yang rata-rata tidak tinggi.

Program tersebut ditargetkan untuk menghasilkan dua outcome, yakni 1) meningkatnya produktivitas sosial-ekonomi dan kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan dan
2) meningkatnya akses fasilitas umum, kelompok usaha bersama, dan rumah tangga, terhadap energi terbarukan (dalam program ini adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya – PLTS). Outcome tersebut dapat dicapai dengan mewujudkan sedikitnya empat output, yaitu 1) berjalannya pusat belajar masyarakat bertajuk “Sekolah Hijau”, 2) berlangsungnya praktik pertanian terpadu dan kelompok usaha bersama (Koperasi atau Badan Usaha Milik Desa) yang berwawasan hijau, 3) terbangunnya PLTS untuk memfasilitasi rumah tangga, fasilitas umum, dan kelompok usaha bersama, dan 4) beroperasinya organisasi lokal yang memiliki kemampuan mengelola PLTS.

Program ini dijalankan berbasis kerangka pemahaman bahwa kepentingan pertumbuhan ekonomi harus selaras dengan kepentingan pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan. Kepentingan salah satu tidak boleh mengalahkan atau bahkan mengorbankan kepentingan yang lain seperti yang selama ini banyak terjadi. Kunci keberhasilan pendekatan itu terletak pada pelaksanaan program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat untuk perubahan sosial yang mampu memberi manfaat ekonomi (penanggulangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja produktif), sosial (peningkatan pengetahuan/kesadaran lingkungan, pengembangan integrasi sosial), dan sekaligus lingkungan (peningkatan kualitas sanitasi, distribusi air bersih, serta efisiensi penggunaan lahan dan peningkatan nilai tambah pemanfaatan sumber daya alam). Prinsip yang digunakan dalam implementasi program Kemala ini adalah 1) Pembangunan Berbasis Komunitas
dan 2) Keberlanjutan.

Pembangunan Berbasis Komunitas, Komunitas desa diposisikan menjadi elemen paling penting dalam program ini. Program menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan komunitas setempat yang berperan sebagai penerima manfaat dalam menjalankan dan menghasilkan keluaran. Penerapan pendekatan partisipatif diyakini lebih mampu mendekati, karena sejak awal proses komunitas ikut dilibatkan aktif dan menjadi bagian dalam pengambilan berbagai keputusan. Beberapa kegiatan yang ketat menggunakan pendekatan ini adalah pada berbagai proses pengambilan keputusan strategis antara lain terkait penentuan kelembagaan setempat, penetapan pelaksanaan instalasi pembangkit listrik tenaga surya (total yang dipasang sebesar 73,3 Kilo Watt Peak), penetapan lokasi proyek (sistem pompa dan pengolahan air berbasis sel surya dan pusat usaha produktif). Salah satu prasyarat utama di dalamnya adalah bahwa semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus memiliki informasi dan pengetahuan yang sama terkait berbagai opsi yang akan ditetapkan (informasi yang simetris).

Keberlanjutan, aspek keberlanjutan merupakan dimensi penting yang harus masuk ke dalam elemen-elemen program. Pertama, pelembagaan organisasi komunitas dikembangkan sedemikian rupa agar dapat terus menerus berperan dalam pemberdayaan komunitas. Instrumen aturan main, tata kelola maupun kesepakatan bersama lainnya dan visi kewirausahaan adalah salah satu bagian utama yang dapat menjamin keberlanjutan organisasi komunitas dapat bertahan. Kedua, para aktor/pelaku yang berperan agar organisasi dapat berjalan dan ketiga, kebijakan dan anggaran merupakan elemen pendukung lain guna menjamin keberlanjutan.

Buku ini berusaha berbagi pola pikir dan pengalaman dalam menjawab berbagai tantangan besar dalam keterkaitan antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam implementasi strategi pembangunan. Jatuh bangun dalam menjalankan kerangka besar hingga tingkat akar rumput melalui serangkaian aktivitas dalam suatu program tidak akan bermakna meluas jika tidak diseminasi. Lebih dari itu tanpa diseminasi yang bersemangat terbuka tak akan didapatkan umpan balik yang menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk bersama.

Perlu ditegaskan bahwa buku yang terbagi dalam enam bab ini bukan merupakan laporan proyek. Paparannya merupakan hasil ramuan yang tidak hanya dari hasil program Kemala selama satu setengah tahun di atas, namun juga dari berbagai pengalaman multidisiplin serupa.

Bab 1 menyajikan kerangka besar yang menjadi pertimbangan, motivasi arah strategi dan program energi dari tingkat global hingga lokal. Jumlah besar penduduk dunia masih dalam kondisi miskin, kesenjangan kaya-miskin terus melebar dengan berbagai program pembangunan menyisakan dampak negatif lingkungan skala besar di mana-mana tentu merupakan sinyal yang sangat jelas bahwa diperlukan koreksi mendasar strategi dan praktik pembangunan saat ini, tidak terkecuali di sektor energi. Diperlukan transisi sistem energi dari sistem energi yang didominasi oleh sumber energi fosil menuju sistem yang mengandalkan pada energi terbarukan. Sebagai bagian dari pembangunan sektor energi yang harus terintegrasi dengan berbagai sektor lainnya, senada dengan yang dihadapi oleh berbagai negara lain dunia, Indonesia harus mampu mengatasi berbagai tantangan kompleks trilema energi. Tantangan ini menjadi sangat kental antara lain karena tingkat konsumsi energi per kapita yang jauh lebih rendah dari sejumlah negara tetangga, rasio elektrifikasi yang masih sangat berbeda antara bagian barat dan timur, ribuan desa belum terlayani listrik dan lainnya. Walau memiliki ragam sumberdaya energi terbarukan yang melimpah, Indonesia masih harus lama menanggung eksternalitas akibat sistem energinya yang terus didominasi oleh energi fosil, tidak terkecuali batubara.

Bab 2 menjelaskan salah satu pilihan dalam transisi energi adalah dengan pemanfaatan energi surya dengan penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berbasiskan pada sel surya (photovoltaics). PLTS tersebut menawarkan berbagai potensi guna peningkatan kesejahteraan. Sifat inherennya membuat teknologi ini punya fleksibilitas untuk diterapkan di wilayah kota maupun desa. Basis komunitas merupakan salah satu opsi yang sangat baik untuk menjadi kerangka pemanfaatan PLTS. Selain memaparkan hal-hal tersebut Bab 2 juga menyajikan berbagai potensi penghalang yang bisa membuat program pemanfaatan PLTS gagal. Bab ini menawarkan kerangka berpikir dan strategi guna mengatasi berbagai tantangan pemanfaatan PLTS di komunitas.

Bab 3 merupakan bagian dari buku ini yang memberi opsi praktis tahapan implementasi program PLTS di tingkat komunitas, sejak dari tahap perencanaan hingga pembangunan serta implementasi yang mementingkan tercapainya keberlanjutan manfaat program. Opsi yang ditawarkan buku ini dalam program sesungguhnya di lapangan bisa diterapkan setelah didahului dengan berbagai adaptasi guna penyesuaian terhadap tantangan khas tiap program dan lokasi.

Bab 4 memaparkan bahwa dimensi sosial masyarakat pedesaan dalam merespons energi terbarukan PLTS dapat dinilai dinamis, mulai dari pengenalan teknologi, sosialisasi sampai dengan mengajak masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaannya. Perlu pendekatan kontekstual sesuai dengan ruang dan waktunya serta menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat terhadap energi terbarukan (PLTS) tersebut, tantangannya adalah meyakinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari proses keseluruhan perubahan termasuk memahami teknologi PLTS. Berbagai konflik muncul, baik secara horisontal di antara masyarakat maupun vertikal antara masyarakat dengan perangkat maupun tokoh desa. Dinamika konflik di atas bisa dipahami mengingat banyak irisan terhadap berbagai kepentingan elemen masyarakat. Selanjutnya, berbagai terobosan dilakukan untuk melekatkan masyarakat dengan kebutuhan PLTS, diawali dengan pendekatan yang berproses dari bawah medekati elemen masyarakat kunci maupun kelompok rentan yakni perempuan. Hal ini dilakukan untuk menjadikan PLTS bagian dari keseharian masyarakat. Bahkan pendekatan juga dilakukan ke kalangan kaum muda dan pengambil kebijakan lokal dan daerah yang akan dilibatkan untuk menjamin keberlanjutan PLTS. Ragam pendekatan dan fasilitasi masyarakat terus dilakukan dengan menegaskan bahwa PLTS bukan sekedar proyek sementara, akan tetapi PLTS merupakan bagian dari kehidupan dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya, dalam Bab 5 diungkap bahwa titik kritis upaya pengembangan masyarakat adalah program keberlanjutan. Upaya strategis terus dilakukan untuk menyiapkan kegiatan yang mampu menciptakan produktivitas yang bersifat multidimensi usaha maupun aktornya, artinya PLTS terpasang harus mampu menjadi medium pemberdayaan semua lapisan masyarakat. Selanjutnya, seiring dengan perjalanan waktu, PLTS yang terpasang harus mampu menjembatani berbagai produktivitas masyarakat untuk merespons kelembagaan, teknis pengelolaan, pengawasan sistem, pembiayaan, partisipasi sosial dan manajemen pengetahuan. Penting untuk menyamakan persepsi pengelolaan PLTS terhadap akuntabilitas standar operasional prosedur pada proses pelaksanaannya. Kemudian pada level pembiayaan terdapat kontribusi masyarakat dalam kerangka partisipasi sosial. Sedangkan upaya melekatkan PLTS sebagai wujud pengetahuan dengan cara memperkuat asas kemanfaatannya. Berbagai aspek yang dilakukan di atas merupakan kerangka besar konsep keberlanjutan yang muncul sebagai respons atas komitmen bersama.

Buku ini ditujukan untuk akademisi maupun praktisi. Pembaca dari kalangan akademisi dapat menggunakan untuk memperkaya khazanah analisis teoritik pemanfaatan energi terbarukan untuk komunitas. Uraian panjang dan mendalam dengan topik serupa masih jarang dijumpai dalam bahasa Indonesia sehingga buku ini juga bisa dijadikan bahan ajar di perguruan tinggi.

Sementara itu, pembaca dari kalangan praktisi bisa memanfaatkan buku ini sebagai rujukan dalam mendekati masyarakat agar lebih paham atas kebutuhan dan berbagai karakternya yang khas terkait berbagai program energi terbarukan, khususnya PLTS. Selain itu, buku ini juga menyediakan rujukan kepada praktisi dalam menginisiasi sebuah proyek energi baru terbarukan dengan sebuah pendekatan komprehensif yang dirancang rapi.

Buku ini adalah produk dari Konsorsium KEMALA penerima Hibah dari MCA Indonesia

download buku elektronik : PLTS Berbasis Komunitas

Untuk mendapatkan buku cetak

Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) Universitas Gadjah Mada
Kompleks Bulaksumur, Jl. Mahoni B-2 Yogyakarta 55281
Telp./Faks.: (0274) 555664
Email: ekonomikerakyatan@ugm.ac.id

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*