Pengembangan Model “Sekolah Sagu” di Sorong Selatan, Papua Barat

Penelitian ini dilaksanakan selama dua tahun 2018-2019, dengan skema Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) Kemenristek DIKTI. Judul lengkapnya adalah: Kajian Pengembangan Model “Sekolah Sagu” sebagai Pendekatan Sosial Humaniora untuk Percepatan Pencapaian Kedaulatan Pangan, Pengentasan Kemiskinan, dan Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca, di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Tim peneliti diketuai oleh Dr. Laksmi Adriani Savitri, MA, dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, sekaligus Tim Ahli di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan.

Permasalahan deforestasi yang tinggi di Indonesia telah menjadi sumber penyebab dan akibat munculnya berbagai masalah lanjutan lainnya seperti kemiskinan, ketersediaan pangan, dan kerusakan lingkungan yang berhubungan dengan makin tingginya emisi gas rumah kaca. Pengembangan model pendekatan sosial-humaniora ini diharapkan menjadi salah satu terobosan, melengkapi pendekatan yang telah ada yang sering mengabaikan faktor manusia dan kelembagaan sosial-budaya. Pengambilan sudut pandang sosial budaya yang menyoroti pentingnya kearifan masyarakat adat sebagai faktor pendorong utama perubahan, menjadi tawaran pendekatan kajian. Selain itu, studi ini berupaya mengembangkan model, mulai dari tataran konsep hingga operasionalisasi konsep dalam tatanan pengembangan kapasitas masyarakat lokal.

Tujuan utama dari penelitian adalah: 1) Mengidentifikasi unsur-unsur model pengembangan potensi dan praktek-praktek pemanfaatan sumber daya secara komunal yang sudah berkembang di tengah masyarakat, termasuk peluang usaha, potensi pasar, potensi modal dan kebutuhan pembiayaan yang dikelola secara kolektif, baik berasal dari sumber dalam maupun luar; 2) Mengembangkan disain pendidikan, kurikulum, modul, dan metode pembelajaran kewirausahaan masyarakat adat, model kelembagaan ekonomi berbasis masyarakat adat, dan pembangunan jejaring dengan berbagai pihak di luar komunitas; dan 3) Mengujicoba penerapan model inkubator kewirausahaan, yang terdiri atas model pendidikan, pelembagaan, pembiayaan, pemasaran kolektif, dan pengembangan jejaring sebagai inkubasi kewirausahaan kolektif berbasis komunalitas pertanian dan kehutanan sagu terpadu, dan energi terbarukan.

Penelitian diharapkan menghasilkan: 1) Peta potensi dan peta jalan pengembangan sumberdaya kewirausahaan kolektif di lokasi, meliputi pemanfaatan sumberdaya alam, sumberdaya insani, sumberdaya atau aset produktif lain, dan modal sosial budaya: 2) Peta praktik kewirausahaan serta potensi pengembangan dan penguatannya; 3) Penambahan varian bentuk-bentuk kegiatan kewirausahaan kolektif di lokasi riset; 4) Peningkatan peran serta masyarakat (melalui regenerasi dan inovasi pengembangan kelembagaan usaha kolektif) di lokasi riset dalam kegiatan kewirausahaan; 5) Peningkatan kesejahteraan masyarakat (meningkatnya pengetahuan, penguatan kelembagaan, pendapatan, mengurangi pengangguran, dan lain-lain).

Penelitian dilakukan dalam 2 tahun, dengan hasil dan temuan di tahun pertama yaitu: 1) Model awal pengembangan industri sagu berbasis masyarakat adat berupa terbentuknya pusat pembelajaran kewirausahaan sosial atau community learning center dan modul pembelajaran berdasarkan kebutuhan; 2) Terbentuknya “embrio” bisnis industri sagu berbasis masyarakat adat.

Pendekatan Studi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang merupakan penggabungan antara riset dan aksi atau dikenal juga sebagai kaji tindak. Dengan PAR data dan informasi didapatkan lewat refleksi kritis tentang apa yang terjadi di lapangan, untuk selanjutnya digunakan untuk melakukan modifikasi dan aksi baru. Penekanan pendekatan ini terletak pada partisipasi objek peneliti dalam sebagian besar proses penelitian.

Temuan penting lain dari penelitian ini adalah bahwa masyarakat adat di kabupaten Sorong Selatan telah memiliki dan melaksanakan pengelolaan sumber daya yang berorientasi demokrasi ekonomi dan kesehatan lingkungan. Hal tersebut mereka laksanakan untuk mengatur produksi hutan sagu yang sejak dulu menjadi sumber pangan utama masyarakat Papua. Model  pengelolaan yang mereka miliki dapat menjamin adanya asas keadilan akses seluruh anggota masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produksi dan menikmati hasilnya. Selain itu karena produktivitas sagu sangat mempengaruhi kesehatan lingkungan, model produksi ala masyarakat adat juga tetap berorientasi pada pelestarian lingkungan yang nantinya akan menguntungkan untuk jangka panjang.

Akan tetapi, keberadaan hutan sagu dan pelaksanaan model produksi berbasis masyarakat adat terancam oleh adanya pengenalan model industri dan ekspansi perubahan komoditi yaitu kelapa sawit. Hal ini tidak hanya mengancam potensi kedaulatan pangan dan kesehatan lingkungan, namun juga makin menjauhkan masyarakat dari kemandirian ekonomi. Setelah melalui proses penelitian melalui wawancara mendalam dan diskusi terfokus dengan pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan terutama masyarakat adat, maka di tahun pertama telah tersusun model sekolah sagu yang terdiri dari tahapan pengembangan pada kelompok masyarakat dilengkapi dengan kurikulum. Diharapkan dengan model sekolah sagu, sebagai pendekatan sosial-humaniora dapat menjadi “pintu masuk” peningkatan peran masyarakat untuk pengentasan krisis pangan, penanggulangan kemiskinan, dan pengurangan ERK.

Pada tahun kedua sekarang (2019) diharapkan target penyusunan model telah dapat diujicobakan, untuk mendapatkan gambaran implementasi yang terukur, yang nantinya dapat diterapkan terutama oleh pihak-pihak terkait, baik di lingkungan pemerintah maupun non-pemerintah yang memiliki perhatian pada pengembangan industri sagu rakyat di Papua.