Desa Mandiri Energi

Program pemberdayaan ini merupakan bagian dari program hibah kompetisi berbasis institusi UGM tahun 2011 – 2013.  Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) mengambil peran dalam penyusunan role model pada tema C yang membidangi pemberdayaan masyarakat. Program Tema C kemudian dibagi lagi dalam 3 sub-tema yakni: (1) Penguatan kapasitas kelembagaan dan daya tawar kolektif masyarakat; (2) Peningkatan kinerja teknis dan finansial serta daya saing industri kecil/UMKM; dan (3) Peningkatan daya dukung kawasan untuk peningkatan daya saing daerah.

Pengembangan Desa Mandiri Energi melalui Program “Penguatan Nilai-nilai Mandiri Energi dan Organisasi Komunitas Desa Mandiri Energi”, mulai dirintis pada tahun 2011 di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Dipilihnya Desa Poncosari tak lepas dari program pemerintah yakni pengembangan program nasional energi terbarukan. Melalui kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Pemda Bantul, serta PSEK UGM, proyek ini dapat terlaksana. Dalam hal ini, Kemenristek berperan dalam pengembangan sistem energi hibrid. Berlokasi di kawasan “Sultan Ground” Pantai Pandansimo, Desa Poncosari dibangun pembangkit listrik tenaga angin dan surya. Di areal seluas 17 hektar, dibangun kincir angin yang dapat menghasilkan listrik sebesar 170 KW dan 15 sel surya fotovoltaik terbangkitkan 20 KW. Sementara itu dalam program ini, PSEK UGM dibantu beberapa pihak berfungsi menjalankan penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Program yang dirancang dalam jangka waktu tiga tahun ini secara spesifik kegiatannya berupaya untuk meningkatkan daya tawar kolektif terkait energi terbarukan. Melalui metode action research dilakukan pelembagaan pengelolaan daya energi terbarukan yang melibatkan partisipasi masyarakat di Desa Poncosari. Strategi penting yang ditempuh tim adalah tidak dengan membentuk lembaga baru, tetapi mengembangkan lembaga yang sudah ada. Setelah dilakukan diskusi dengan masyarakat, maka tim menetapkan karang taruna tingkat desa dengan beberapa pertimbangan: dapat memperkuat kelembagaan yang sudah ada, energi terbarukan merupakan program jangka menengah dan panjang sehingga keterlibatan karang taruna sebagai organisasi pemuda sangat penting dilakukan, dan lokasi program terbarukan berada pada beberapa dusun sehingga lebih sesuai jika kelembagaan ditempatkan pada tingkat desa.

Pada tanggal 19 Desember 2011 bertepatan dengan Dies Natalis Universitas Gadjah Mada, Kelompok Kerja (Pokja) Eduwisata Energi Poncosari diresmikan. Pokja ini merupakan lembaga yang bertugas menjadi ”agent of development” partisipasi masyarakat dalam pengembangan energi terbarukan. Selanjutnya pada tahun 2012, ditingkatkan kapasitas kelembagaannya yang meliputi kemampuan teknis energi terbarukan, organisasi, dan pengembangan bisnis lembaga. Serangkaian rapat kerja dan kegiatan telah dirancang untuk mendorong penguatan kapasitas organisasi, diantaranya melalui pelatihan-pelatihan, konsultasi-konsultasi, dan magang. Fokus kegiatan lebih diarahkan agar lembaga yang dibentuk mampu memfungsikan diri sebagai tempat belajar bersama berbasis komunitas (community learning institution).

Pada tahun 2013, dilakukan pengembangan nilai-nilai mandiri energi dan organisasi komunitas difokuskan melalui pemasaran eduwisata energi terbarukan melalui website, roadshow, pembuatan media offline pendukung pemasaran seperti brosur dan company profile. Selain itu untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas, pada tahun ini juga dirancang semiloka dan uji coba produk/paket edu wisata untuk dapat mempromosikan kegiatan pengembangan wisata. Selain itu, untuk membangun jejaring dengan lembaga-lembaga lain yang memiliki visi dan misi yang sejalan, Tim Pustek dan Pokja mendaftarkan diri bergabung dalam jejaring Global Eco-village Network yang mencakup wilayah Oceania dan Asia (GENOA).

Tujuan program ini secara keseluruhan adalah untuk meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan energi terbarukan. Berbagai instrumen untuk tujuan itu telah berhasil direalisasikan diantaranya pembuatan website, roadshow, pembuatan media offline pendukung pemasaran seperti brosur dan company profile. Di akhir program juga telah disusun rencana pengelolaan eduwisata. Paket-paket eduwisata yang dirancang menggunakan bahasa-bahasa populer dan penawaran kegiatan-kegiatan belajar sekaligus wisata (eduwisata) dipromosikan melalui lembaga-lembaga pendidikan (dasar dan menengah).

Pembentukan Pokja Eduwisata Energi Poncosari dan kiprah pengurusnya selama jangka waktu program mungkin masih sangat kecil dampaknya. Meskipun demikian, sebagai model tata kelola, program ini dapat memberikan ilustrasi model tata kelola energi terbarukan yang berbasis kolektivisme dan partisipasi masyarakat (sebagai alternatif dari pendekatan “pasar” yang sekarang mendominasi pengembangan energi terbarukan di Indonesia).